Loading…

Aris Aprila, Bersama Igor Membantu Negara

Tiga hari pasca bencana yang meluluh-lantakan Palu, Donggala dan sekitarnya, Aris Aprila (31) bersama Igor (2,5 tahun), anjing kesayangannya berjenis Belgian Malinois, dilibatkan oleh Badan SAR Nasional untuk menjadi salah satu tim pencari korban bencana. Bukan kali ini saja, Aris dan Igor terjun langsung ke titik lokasi bencana di Indonesia.

Bagi Aris, upaya pencarian korban selamat menjadi tujuan utama dalam setiap terjadi bencana, seperti mencari korban di antara reruntuhan bangunan maupun timbunan tanah. Bagaimanapun, Igor yang sudah dilatih sejak usia 3 bulan sama seperti anjing-anjing terlatih lainnya adalah tim. Jangan sekali-kali dipandang sebagai alat, karena doggy adalah makhluk hidup.

Aris adalah pendiri AK9 Dog Training Center di kota Bandung, Jawa Barat. Selama ini, Aris sangat fokus melatih anjing dengan kemampuan tertentu. Kebetulan, institusinya berafiliasi dengan Jakarta Rescue yang bergerak di bidang kebencanaan dan SAR Dog alias menggunakan anjing sebagai pendeteksi korban yang masih hidup. Target utama mencari korban yang masih hidup.

Kegiatan SAR Dog di Indonesia masih sangat langka. AK9 adalah satu-satunya institusi pelatihan anjing berstandar internasional yang diakui oleh INSARAG, jaringan global di bawah payung Perserikatan Bangsa-bangsa yang menangani masalah pencarian dan penyelamatan terkait bencana di dunia.

“Bersama Igor, saya ingin membantu negara. Berbeda dengan Basarnas yang terdiri dari orang-orang memiliki kemampuan evakuasi, saya bersama

Jakarta Rescue berfokus

membangun SAR Dog sejak tahun 2009. Selain di Palu, kami pernah dilibatkan untuk pencarian korban di Aceh, Padang, Lombok hingga bencana Nepal,” kata Aris di lokasi pelatihannya di daerah Lembang, Bandung, Jawa Barat, Jumat (2/11/2018).

Aris tidak sendirian bersama doggy Igor. Ada tiga ekor anjing lainnya berjenis Belgian Malenois dan dua ekor Golden Retriever milik Jakarta Rescue. AK9 menjadi laboratorium dasar, sedangkan pengembangannya dilakukan di Pusat Pendidikan dan Latihan di Citeko untuk simulasi longsor, gedung runtuh dan sebagainya.

Pelatihan awal dilakukan untuk mengetahui perilaku anjing. Tidak boleh berlebihan agresif terhadap manusia maupun sesama anjing atau hewan lainnya. Kemudian, basic obedience atau perintah dasar yang harus diketahui anjing, seperti panggilan, lepas tali tetap terkontrol, perintah duduk maupun tiarap diam, serta jalan samping. Lalu, membangun agility atau ketangkasan menghadapi rintangan dan membangun kepercayaan dirinya memahami kondisi sekitarnya, seperti bencana.

Menurut Aris, berbeda dengan kepolisian yang fokus pada kadaver atau anjing pelacak korban yang meninggal, Igor lebih fokus pada korban yang masih hidup. Saat di Palu, korban banyak ditemukan di reruntuhan Hotel Balaroa dan Hotel Mercure, setidaknya beberapa titik lokasi yang diendus anjing terdapat korban yang masih utuh tubuhnya. Sedangkan di desa Patobo, timnya hanya bertindak sebagai observers, karena sangat kecil menemukan korban akibat likuifaksi timbunan tanah.

Ekspektasi  tinggi

Banyak pemilik atau doglover memiliki ekspektasi terlampau tinggi. Hanya karena film, misalnya Air Bud yang anjingnya bisa olah raga dan petualangan Rin Tin Tin, pemilik anjing menghendaki anjingnya memiliki kemampuan luar biasa. Hargai proses kemampuan anjing dengan melatih dan menyayanginya jauh lebih luar biasa.

Sejak kecil, Aris sebagai anak tunggal menyenangi anjing. Memang ada rasa kontradiktif dengan keyakinan dalam keluarganya. Saat kuliah sambil freelance bekerja tahun 2005, Aris mulai memiliki anjing. Hingga 2010, latihannya masih otodidak.

Selesai kuliah tahun 2009, Aris sempat bertemu dokter hewan Anton yang sangat inspiratif. Di Jawa Barat, taruhlah di Bandung, dokter itu mengungkapkan belum ada orang yang mau profesional melatih di bidang ketangkasan. “Banyak orang hanya berpikir mencari uang. Bukan bagaimana memperoleh uang dari kemampuan atau skill. Saya melihat, ada peluang yang belum dicoba,” kata Aris menirukan obrolan sang dokter.

Sempat terjadi pertentangan di dalam keluarganya. Sekolah tinggi-tinggi dan sudah enak bekerja di bank, kok malah keasyikan pegang-pegang anjing. Kotor. Aris hanya terdiam dan tersenyum. Anjing pertamanya berjenis Rottweiler, karena terkesan film Harry Potter. Orag tuanya tidak tahu, karena Aris pulangnya selalu malam. Begitu pagi-pagi, ketahuan baunya dan disidang. Anjing ditaruh di halaman, tidak boleh masuk rumah.

“Anjingnya ‘menangis-nangis’. Dikasih ke orang, enggak ada yang mau. Dikembalikan ke breeder, enggak mau. Ya sudah, saya hadapi saja penolakan orang tua,” kata Aris.

Anjing ini menjadi besar. Orang tua luluh, karena saat itu kerap terjadi pencurian di perumahannya di Cijerah. Hanya rumah dan tetangga dekatnya yang terasa aman, karena adanya anjing ini.

“Anjingnya ‘menangis-nangis’. Dikasih ke orang, enggak ada yang mau. Dikembalikan ke breeder, enggak mau. Ya sudah, saya hadapi saja penolakan orang tua.”

Jam sembilan malam ke atas anjingnya selalu dilatih di luar rumahnya. Anjing sudah didaulat tidak boleh masuk rumah. Malam, sewaktu pulang kerja, Aris merasa bau anjingnya berada di dalam rumah.

“Tahu-tahu, mama saya sedang menonton sinetron. Anjing saya sedang berada di bawah kolong tempat duduknya. Saya sebagai anak satu-satunya terharu. Menitipkan orang tua pada doggy terasa lebih tenang daripada menitipkan pada satpam,” ujar Aris, sambil tertawa.

Aris mengawali tekadnya dengan “ngamen”, melatih anjing dari rumah ke rumah di sekitar Bandung. Bermodal pendidikannya di bidang public relation, Aris ngobrol dengan beberapa klien pemilik anjing. Aris membentuk komunitas anjing supaya punya teman. Aris melatih anjing untuk proteksi.

Sebuah titik balik diyakini Aris mengubah perjalanan kariernya. Saat menemani orang tua berangkat naik haji, ada titik pencerahan yang dirasakan Aris. “Saya serasa menemukan jawaban untuk karier bermain di SAR Dog ini. Di Indonesia, stigma doggy sangat sensitif. Di sanalah, saya mempertanyakan niat, kalau memang ada informasi tidak boleh bergerak di bidang ini, saya tidak akan ‘bermain’ anjing lagi.  Ternyata, anjing harus diyakini bermanfaat, boleh buat jaga maupun berburu. Sepulangnya, saya serasa dibukakan jalan, bertemu dengan Jakarta Rescue,” ujar Aris.

“Saya serasa menemukan jawaban untuk karier bermain di SAR Dog ini. Di Indonesia, stigma doggy sangat sensitif. Di sanalah, saya mempertanyakan niat, kalau memang ada informasi tidak boleh bergerak di bidang ini, saya tidak akan ‘bermain’ anjing lagi.”

Melatih anjing proteksi menjadi anjing berbahaya. Betul, kata Aris, kalau sistem pelatihan tidak ditangani profesional. Sistem pelatihan AK9, anjing diajarkan untuk mencapai target. Pola pikir yang dibentuk pada instingnya adalah alasan anjing itu menggigit, situasi dan kondisi serta suara yang membuat anjing itu harus menggigit. Anjing diajarkan waktu menggigit, bagian yang perlu digigit, dan cara bertahan, serta waktu menyelesaikan tugasnya.

Cara pandang

Baru-baru ini Aris pun bekerja sama dengan Zeni Konstruksi TNI Angkatan Darat untuk membentuk unit SAR Dog. Kemudian, membangun komunitas pemilik anjing Agility Bandung Group (ABG). Aris bersama kawannya, Aji, mengajak beberapa pemuda yang suka nongkrong untuk melatih ketangkasan anjing. Minimal, mengubah sedikit cara pandang terhadap anjing.

“Selama ini, anjing dibawa-bawa hanya sebagai sosialita, mengangkat status pemiliknya. Saya ingin ajak mencitai doggy secara utuh. Kenali dan cara merawat anjing. Bukan diikat pohon di Pet Park, kemudian pemiliknya ngerumpi dengan teman-temannya,” kata Aris.

Sekilas Aris sempat mengisahkan keseriusannya melatih anjing. Kebetulan, pertama kali mengajukan izin tempat pelatihan di rumah sakit hewan Provinsi Jawa Barat di daerah Cikole. Luasnya hanya 3×2,5 meter. Cuma muat lima kandang dan tidak punya modal. Kandang diperoleh pun dengan kredit. Setahun Aris bekerja freelance pagi dan melatih anjing pada sore harinya.

Empat tahun lalu, entah ada kebijakan tertentu, sewaktu memperpanjang kontrak, Aris hanya diberikan kesempatan mengosongkan tempat selama tiga hari. Syok, kemana lima anjing ini akan ditepatkan? Hopeless. Hingga kini, tempat itu ternyata tidak dijadikan apa-apa. Belakangan dijadikan kandang kambing.

“Saya pikir, karier saya tamat. Satu ekor terpaksa saya pulangkan ke pemiliknya, sedangkan empat ekor harus saya bawa-bawa. Kebetulan, saat itu saya sedang kredit mobil. Jadi, saya hidup nomaden dan anjing ditempatkan di canal box,” kata Aris.

“Saya pikir, karier saya tamat. Satu ekor terpaksa saya pulangkan ke pemiliknya, sedangkan empat ekor harus saya bawa-bawa. Kebetulan, saat itu saya sedang kredit mobil. Jadi, saya hidup nomaden dan anjing ditempatkan di canal box.”

Tiga hari kemudian, Aris mencari lokasi di daerah Lembang. Ada sebuah lokasi seluas 2.300 meter yang dikontrakkan/dijual. Uang cekak. Biaya kontrak mencapai Rp 60 juta per tahun. Beruntung, ada kawannya yang mau bekerja sama antara membuka pet shop dan pelatihan anjing.  Jalan terasa mulus selama dua tahun. Kini, pelatihan bukan hanya SAR Dog, tetapi juga ketangkasan, show, dan kebutuhan pelacak narkotik maupun bahan peledak. Sama-sama belajar dengan kepolisian daerah kerap dilakukannya.

Aris mengakui, sekolah khusus pelatih anjing secara formal sejauh ini tidak ada. Hanya ada berbentuk kursus dan seminar, serta workshop lintas negara. Menjadi dog trainer tidak cukup hanya sekolah, tetapi harus punya hati. Sistem pelatihan tidak kaku dan disamaratakan terhadap semua anjing. Teknik mengajarkan duduk, misalnya, banyak ragamnya. Begitu juga cara memberikan makan.

“Yang paling penting adalah merasa. Banyak orang bangga dan menyebut diri seorang dog trainer. Sebenarnya, seorang dog traner itu mesti bisa memahami, menjiwai. Apa yang dibutuhkan anjing dipenuhi dahulu. Saya saja terus belajar,” ujar Aris.

Menurut Aris, doglovers adalah seorang handler. Mengapa? Seorang handler mesti mengetahui kepribadian dirinya dan kepribadian doggy miliknya. Banyak doglovers cintanya itu bertepuk sebelah tangan. Orang menganggap, kesenangannya adalah kesenangan anjingnya. Misalnya, anjing dikenakan baju atau dirayakan ulang tahunnya.

Imajinasi pemilik begitu kuat, sehingga tidak secara persis memahami anjingnya membutuhkan imanjinasinya. Benarkah anjing itu happy diperlakukan seperti itu? Sebenarnya, kata Aris, anjing lebih membutuhkan ketulusan dan kejujuran. Betul, anjing harus dikoreksi dalam perilakunya, melainkan juga perlu diberikan motivasi dan reward. Ketidakseimbangan memberikan perhatian akan menyebabkan anjing tidak menurut.

Seorang handler tidak akan membuang anjingnya. Tidak sekadar rasa ingin memiliki. Ada kecocokan batin yang unik. Seorang pelatih anjing top di dunia pernah bertanya: anjing seperti apa yang menurut Anda bagus? Ada yang menyebut ras anjing atau perilaku tertentu. Ternyata, jawaban dia, anjing bagus adalah anjing yang cocok dengan pemiliknya. Ini mencegah anjing ditelantarkan.

Seorang handler benar-benar doglovers. Ketika melatih anjing, fokus akan dilakukan dengan meningkatkan kemampuannya. Tidak melulu melihat negatifnya. Ketidakfokusan anjing dalam berperilaku memang perlahan-lahan dilatih untuk diperbaiki. Perbaiki karakter dilakukan dengan kedekatan. Sensitivitas itu yang dibangun.

Selama tiga tahun ini, AK9 Dog Training telah memberikan pelatihan pada begitu banyak anjing, antara lain, Golden Retriever, German Shepherd, Husky, Herder, Corgi, Mini Pom, dan Pudel. Prinsipnya, semua anjing bisa dilatih. Tidak ada kata terlambat. Kuncinya adalah makanan. Anjing butuh makanan, main dan kasih sayang, serta komunikasi repetisi yang tepat.

Pengalaman pelatihan anjing di Eropa, Aris melihat bahwa orang Indonesia kerap memanjakan anjing, sedangkan orang Eropa lebih suka mendidik. Tidak heran, membangun komunitas anjing bukan untuk membuat pemilik bisa lebih bergaya. (Haryo Damardono)

Sumber : https://kompas.id/baca/tokoh/sosok/2018/11/06/aris-aprila-bersama-igor-membantu-negara

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Chat with us